Es Krim Ragusa, selera tempo dulu

Ragusa

Nama “Ragusa” berasal dari dua orang berkebangsaan Italia yang datang ke Indonesia pada tahun 1930-an, saat itu Luigie Ragusa dan Vincenzo Ragusa datang ke Indonesia hanya untuk belajar jahit menjahit di Jakarta Pusat. Setelah lulus mereka lalu pergi ke Bandung dan bertemu dengan wanita berkebangsaan Eropa yang memiliki peternakan sapi. Melihat produksi susu sapi yang sangat banyak pada saat itu, Luigie Ragusa dan Vincenzo Ragusa pun punya ide agar susu sapi tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik. Lalu munculah ide untuk mejadikannya sebagai bahan utama pembuatan es krim. Bukannya menjadi penjahit, dua bersaudara Italia tersebut malah tertarik membuat es krim. Ternyata es krim buatan mereka disukai dan laku dijual. Es Krim ragusa terletak Jl. Veteran I No.10 Jakarta Pusat.  Variasinya macam2 dengan harga kisaran 8000-32000.

Iklan

Langgar Tinggi, Mesjid Tua Bergaya Tionghoa di Pekojan

langgar tinggi 

Langgar tinggi, Disebut demikian karena langgar ini agak tinggi dan berlantai dua. Para Muslim India juga berperan dalam membangun langgar ini.

Baca lebih lanjut

Mesjid An Nawier (Pekojan), Mesjid Tua Bergaya Cirebon dan Demak

mesjid annawier

Mesjid An Nawier, didirikan pada tahun 176. Pada akhir abad ke-19 masjid ini diperluas oleh Sayid Abdullah Bin Husein Alaydrus, seorang kaya raya yang namanya diabadikan menjadi nama Jalan Alaydrus di Jl Gajah Mada, Jakarta Pusat. Semasa hidupnya ia ikut menyelundupkan senjata untuk para pejuang Aceh saat melawan Belanda. Masjid yang kini dapat menampung dua ribu jamaah ini merupakan salah satu masjid tempat mengajar Habib Usman Bin Yahya, pengarang sekitar 50 buku (kitab kuning) berbahasa Melayu Arab gundul. Ia pernah diangkat sebagai mufti Betawi pada 1862 (1279 H). Salah seorang muridnya adalah Habib Ali Alhabsji (meninggal 1968) yang mendirikan Majelis Taklim Kwitang.

GROOTE RIVER (Kali Besar), Jakarta yang mengeropa dimalam hari

kalibesar

Pada 1631 aliran Ciliwung yang semula berbelok-belok diluruskan, membentuk sebuah kanal besar yang membujur lurus dari selatan (mulai dari Harmoni) ke utara (Kali Besar) yang oleh Belanda dinamakan /De Groote Rivier. Kali Besar pernah merupakan pusat bisnis dan industri di Batavia. Bahkan, setelah Pelabuhan Tanjung Priok dibuka menggantikan Sunda Kelapa akhir abad ke-19, Kali Besar tetap jadi tempat perkantoran, yang sisa-sisanya masih kita jumpai sekarang ini.

Jembatan Merah (Kota Intan) Memerah disenja Kota Tua Jakarta

jembatan kota intan

Jembatan Kota intan sore hari, jembatan ini tampak cantik dengan terpaan cahaya memilau. Semakin sore, jembatan merah semakin memerah dan mempesona warga batavia yang datang mengunjunginya. Tak akan habis kata untuk memujinya dan tak akan bosan kita mengunjunginya kembali, dengan suasana yang begitu romantis akan membawa kita ke masa batavia lama. Baca lebih lanjut

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!